Mengendalikan Penyakit Ganggang Pirang Pada Tanaman Lada

image

Penyakit Ganggang Pirang Pada Tanaman Lada dan Pengendalian

PENDAHULUAN

Tanaman yang dibudidayakan umumnya tidak pernah terlepas dari gangguan penyakit yang dapat menimbulkan kerugian yang besar. Lada mempunyai nilai ekonomi yang tinggi bagi Indonesia.

Kendala pokok dalam peningkatan produksi lada adalah adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan OPT).

Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas, memiliki banyak pulau dengan kondisi lingkungan geografis dan iklim yang berbeda-beda. Hal ini mendorong adanya variasi jenis organisme pengganggu tumbuhan yang ada di masing-masing daerah sehingga nilai penting suatu opt dapat berbeda antara suatu tempat dengan tempat yang lain.

Penyakit ganggang pirang yang menyerang tanaman lada yang disebabkan oleh Jamur Septobasidium bogoriensis. Secara Nasional penyakit ini bukan dikatagorikan sebagai penyakit utama pada tanaman lada. Meski demikian, di Pulau Kalimantan penyakit ini dapat dikatagorikan sebagai penyakit penting yang dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis yang cukup besar.

Di Kalimantan Barat penyakit ini mulai dirasakan mengganggu petani sejak tahun 2002. Pada tahun 2009 dilaporkan kebun lada rakyat di Provinsi Kalimantan seluas 10.500 Ha dan produksinya mencapai 4.745 ton atau rata-rata produksi 885 kg/Ha. Budidaya lada di daerah ini melibatkan 21.748 KK petani yang tersebar di beberapa lokasi, seperti Kabupaten Singkawang, Bengkayang, Pontianak, Sintang, dan Sekadau. Petugas lapangan melaporkan, bahwa penyakit ganggang pirang telah menyerang 519 Ha pertanaman lada, dengan serangan terluas di Kabupaten Singkawang, yaitu 164 Ha.

Penyakit ganggang pirang ini sangat merugikan petani karena dapat menyebabkan kematian cabang-cabang produksi. Akibatnya pertumbuhan terhambat dan bisa menurunkan hasil sekitar 20%. Adakalanya serangan terjadi pada sulur panjat yang ditandai dengan terdapatnya lapisan jamur berwarna pirang. Bila harga lada mencapai Rp. 30.000 per kg, ini berarti bahwa petani dapat mengalami kerugian sebesar Rp. 5 juta per Ha.

Penyakit ganggang pirang (Septobasidium bogoriensis) pada tanaman lada yang semula terbatas di daerah perbatasan di Kalimantan Barat dengan Malaysia/Sarawak, saat ini sudah meluas ke Kab. Pontianak, Sambas, Bengkayang dan Sintang, serta Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur. Perkembangan penyakit ini dikhawatirkan dapat menimbulkan kerugian yang besar pada pertanaman lada Indonesia, oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan pengendalian yang serius.

Kajian-kajian mengenai penyakit ganggang pirang masih sangat sedikit sehingga informasi ekobiologi penyakit pengendalian yang perlu dilakukan masih terbatas. Ke depan perlu dilakukan banyak kajian untuk menggali mengenai penyakit ini agar para petani lada dapat melakukan pengendalian dengan efektif.

PENGENALAN PENYAKIT

1. Patogen Penyebab Penyakit dan Klasifikasinya Patogen penyebab penyakit ganggang pirang adalah jamur Septobasidium sp. Adapun klasifikasi dari jamur ini adalah sebagai berikut:

Kingdom : Fungi Filum : Basidiomycota Kelas : Urediniomycetes Subclass : Incertae sedis Order : Septobasidiales Family : Septobasidiaceae Genus : Septobasidium

Menurut Prof. Dr. Bambang Hadisutrisno, penyakit ini berasosiasi dengan serangga hama penggerek batang lada. Beliau berpendapat bahwa awal penyakit ganggang pirang ini di kebun lada karena adanya serangan hama penggerek batang lada (Lophobaris piperis). Ini terjadi karena petani banyak menggunakan pupuk N untuk kesuburan tanaman ladanya. Pemupukan N yang berlebihan ditambah dengan lapisan top soil hanya sekitar 15 cm menyebabkan kondisi tanaman lemah (batangnya lunak) sehingga disukai oleh penggerek batang lada tersebut.

Serangga ini membuat lubang gerekan dan mengeluarkan sekresi yang manis sehingga jamur Septobasidium bogoriensis yang memang sudah ada diudara terbuka menempel pada cabang/ranting juga pada serangga. Jamur Septobasidium epifitik terutama pada tanaman berkayu, dan parasitik pada serangga dan mengabsorbsi nutrien serangga dengan haustoria. Larva yang terparasit jamur tidak segera mati, menembus cabang lada membuat lubang atau terowongan di dalam cabang atau batang lada. Selanjutnya jamur Septobasidium berkembang dan mencapai permukaan membentuk koloni berwarna kecoklatan mengelilingi cabang atau batang lada yang menyerupai lichenes. Warna kecoklatan ini oleh masyakarat disebut pirang, dan karena mirip lichenes maka disebut ganggang.

Penyakit ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu dan diketahui menyerang tanaman teh dan karet. Tetapi pada kedua komoditi ini bukan sebagai opt penting sehingga petani tidak melakukan pengendalian. Namun karena berbagai faktor pendukung yang menyertai sehingga menjadi opt penting untuk tanaman lada di Kalimantan Barat. Penderitaan tanaman lada semakin lengkap dengan adanya tanaman karet yang mendukung penyebaran penyakit ini. Tajar dari tanaman karet dimaksudkan bahwa apabila tanaman lada sudah tidak produktif lagi maka tanaman karet bisa disadap sebagai sumber pendapatan petani.

2. Bagian tanaman yang terserang dan Gejala Serangan Penyakit ini menyerang pada batang, ranting, cabang, daun dan tangkai buah lada. Gejala penyakit ditandai dengan tumbuhnya jamur yang berwarna coklat pada bagin tanaman. Seringkali jamur hingga menyelimuti bagian keseluruhan bagian-bagian tanaman tersebut. Pertumbuhan bagian tanaman dari ranting yang terserang menjadi terhenti dan bagian ranting tanaman yang terserang akan perlahan-lahan menjadi mati.

3. Penyebaran penyakit Penyakit ganggang pirang (Septobasidium bogoriensis) pada tanaman lada yang semula terbatas di daerah perbatasan di Kalimantan Barat dengan Malaysia/Sarawak, saat ini sudah meluas ke Kab. Pontianak, Sambas, Bengkayang dan Sintang, serta Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur. Perkembangan penyakit ini dikhawatirkan dapat menimbulkan kerugian yang besar pada pertanaman lada Indonesia, oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan pengendalian yang serius.

Di lapangan, penyebaran penyakit tampak membentuk pola konsentris atau mengelompok. Kadang-kadang serangan dimulai dari tanaman yang letaknya di tengah-tengah kebun, tetapi dapat juga dimulai dari tanaman dipinggir kebun. Apabila penyakit ini sudah lama berjangkit terlihat adanya kelompok-kelompok tanaman sakit di bagian tengah maupun pinggir kebun dalam berbagai tingkat serangan.

PENGENDALIAN Untuk mengatasi serangan penyakit gangang pirang, dapat melakukan pencegahan dan pengendalian.

Pencegahan dapat dilakukan dengan :

1. Lakukan pengamatan secara rutin dan seksama untuk mendeteksi ada tidaknya penyakit

2. Lakukan Penaburan Cendawan Agen Hayati Trichoderma.sp pada lubang tanam sebanyak 1 kg secara rutin setiap 3 bulan.

3. Pemupukan dengan pupuk Trichokompos ( pupuk kompos berbahan aktif Trichoderma.sp) sebanyak 5 kg setiap lubang tanam setiap 3 bulan secara rutin.

INDONESIA BERTANAM  MEMBUKA PELATIHAN
.
PELATIHAN MEMBUAT BIANG F0 TRICHODERMA DAN MEMPERBANYAK BIANG JAMUR TRICHODERMA SERTA MEMBUAT TRICHODERMA CAIR
DAN BONUS PELATIHAN CARA MEMBUAT PUPUK TRICHOKOMPOS DENGAN BAHAN AKTIF TRICHODERMA
TIM INDONESIA BERTANAM SIAP DATANG KETEMPAT ANDA UNTUK ADAKAN PELATIHAN.
BIAYA PELATIHAN Rp. 5 Juta
+ BIAYA TRANSPOR DAN AKOMODASI 2 ORANG INSTRUKTUR. DITANGGUNG PESERTA

Untuk meringankan biaya ini mungkin anda bisa melakukannya dg cara mengumpulkan peserta sekitar 20 orang atau lebih. lalu biaya tsb bisa dikumpulkan dari seluruh peserta tersebut. sehingga biaya terasa ringan.

======================
HUB. Indonesia Bertanam.
HP 0812 7466 4892
======================

image

Iklan

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s