Pelatihan Pengendalian Jamur Akar Putih (JAP) pada Tanaman Karet

Pengendalian hayati terhadap Jamur Akar Putih (JAP) pada Tanaman Karet

Jamur akar putih ( JAP ) atau Rigidoporus lignosus  ibarat monster yang menyerang pada tanaman karet. Sehingga menjadi momok menakutkan pada petani karet dan kalangan perkebunan besar sekalipun. penyakit ini

seandainya dibiarkan akan mengakibatkan fatal pada perkembangan tanaman karet disekitarnya, karena sebelumnya tidak terdeteksi ibarat kanker stadium 4 yang baru diketahui. Maka dari itu kita harus mengenal bagaimana ciri-ciri tanaman karet yang terkena penyakit akar putih,apa penyebab penyakit tersebut,dan apa yang harus dilakukan untuk pencegahan dan pembasmian penyakit jamur akar putih pada tanaman karet,baik karet unggul maupun karet liar.

Klasifikasi jamur akar putih
Kingdom : Fungi
Fillum : Basidiomycota
Kelas : Basidiomycetes
Subkelas :Agaricomycetidae
Ordo :Polyporales
Family :Meripilaceae
Genus :Rigidoporus
Spesies : Rigidoporus lignosus

Morfologi Jamur Rigidoporus lignosus (JAP).
Jamur Rigidoporus lignosus membentuk tubuh buah berbentuk kipas tebal, agak berkayu, mempunyai zona-zona pertumbuhan, sering mempunyai struktur serat, mempunyai tepi yang tipis. Warna permukaan tubuh buah dapat berubaht tergantung dari umur dan kandungan airnya. Pada permukaan tubuh buah benang-benang jamur berwarna kuning jingga, tebalnya 2,8-4,5 μm, mempunyai banyak sekat (septum) yang tebal. Pada waktu masih muda berwarna jingga jernih sampai merah kecokelatan dengan zona gelap yang agak menonjol. Permukaan bawah berwarna jingga, tepinya berwarna kuning jernih atau putih kekuningan.

Fase pertumbuhan jamur akar putih adalah :
Berdasarkan pada tingkat perkembangannya, serangan JAP di kebun dapat dikelompokkan ke dalam empat fase:
(0) Belum ditemukan rizomorf atau miselium JAP pada permukaan akar,
(1) Rizomorf atau miselium melekat pada permukaan leher akar,
(2) Infeksi JAP telah menimbulkan kerusakan pada jaringan kulit,
(3) Infeksi JAP telah menimbulkan kerusakan pada jaringan kayu,
(4) Infeksi JAP telah mematikan tanaman.

Gejala Serangan
Serangan jamur menyebabkan akar menjadi busuk dan apabila perakaran dibuka maka pada permukaan akar terdapat semacam benang-benang berwarna putih kekuningan dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas.

Gejala serangan yang tampak adalah daun-daun yang semula tampak hijau segar berubah menjadiberwarna hijau gelap kusam, layu akhirnya kering dan gugur kemudian diikuti kematian tanaman.Gejala lanjut akar membusuk, lunak dan berwarna coklat.

Deteksi Dini Penyakit
Pemberian mulsa/rumput kering pada leher akar, 2-3 minggu kemudian mulsa diangkat, bila terserang jamur akar putih JAP akan tampak benang warna putih menempel pada leher akar.
Dilakukan pada awal dan akhir musim hujan.

Pengendalian JAP
Pengendalian JAP lebih diarahkan kepada pencegahan pertambahan tanaman terserang melalui pengendalian secara hayati dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Pengendalian hayati terhadap penyakit JAP dilakukan drngan cara memberikan agenhayati biakan jamur Trichoderma  yang dicampur dengan kompos sebanyak 200 gr/lubang tanam (1 kg Trichoderma dicampur dengan 50 kg kompos/pupuk kandang).
Trichoderma sebagai agen aktif biofungisida. Isolat tersebut diisolasi dari tanah pertanian.   Jamur Trichoderma tersebut merupakan salah satu jenis jamur mikroparasitik, artinya bersifat parasit terhadap jenis jamur lain dan sifat itulah yang dimanfaatkan sebagai agen biokontrol terhadap jenis-jenis jamur fitopatogen.

Keunggulan dan Manfaat.
Beberapa keuntungan dan keunggulannya Trichoderma adalah mudah dimonitor dan dapat berkembang biak, sehingga keberadaannya di lingkungan dapat bertahan lama serta aman bagi lingkungan, hewan dan manusia lantaran tidak menimbulkan residu kimia berbahaya yang persisten di dalam tanah.

Mekanisme pengendalian. Trichoderma sebagai biofungisida itu bersifat spesifik target, sehingga tidak menimbulkan hilangnya organisme nontarget. Kelebihan lain mampu mengoloni rhizosfer (daerah perakaran tanaman) dengan cepat dan melindungi akar dari serangan jamur penyakit, mempercepat pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan hasil produksi tanaman. Secara ekonomi penggunaan Biofungisida Trichoderma lebih murah dibandingkan dengan fungisida kimiawi. Proses produksi biofungisida dari jamur itu akan tergantung pada bentuk akhir produknya, bisa padat atau cair.

Secara garis besar alur proses produksinya dibagi menjadi dua tahap proses, yaitu tahap produksi konidia-biomassa yang mencakup kegiatan peremajaan isolat, pembuatan starter, perbanyakan biomassa dan spora dalam fermentor. Tahap berikutnya pencampuran hasil fermentasi dengan bahan padat, penyiapan bahan padat pencampur, pencampuran biomassa-spora dengan bahan matriks padat, pengeringan campuran dan pengepakan produk.

Sebagai pestisida yang berbahan aktif mikroorganisme dan berasal dari alam, biofungisida mempunyai sifat yang ramah terhadap lingkungan lantaran introduksinya ke tanah tidak menimbulkan pencemaran atau berdampak negatif terhadap lingkungan. Sebab ia bukan bahan beracun, melainkan justru dapat mengembalikan keseimbangan alamiah dan kesuburan tanah.

Terjadinya serangan penyakit oleh jamur patogen, pada hakikatnya karena ketidakseimbangan alami, jumlah populasi jamur patogen telah melewati nilai ambang ekonomisnya. Predominasi jamur patogen di dalam tanah akan mengakibatkan penyakit yang menimpa tanaman, sehingga dengan mengaplikasi biofungisida yang berbahan aktif konidia-biomassa Trichoderma  akan menekan populasi jamur patogen sampai di bawah batas ambang ekonomis dan mengembalikan keseimbangan alamiah di dalam tanah (tidak terjadi predominasi satu jenis organisme).

Interaksi Hifa .
Mekanisme pengendalian populasi jamur patogen dilakukan melalui interaksi hifa langsung. Setelah konidia Trichoderma  diintroduksikan ke tanah, akan tumbuh kecambah konidanya di sekitar perakaran tanaman. Dengan laju pertumbuhan cepat akibat rangsangan jamur patogen, dalam waktu yang singkat (sekitar tujuh hari) daerah perakaran tanaman sudah didominasi oleh biofungsida tersebut yang bersifat mikroparasitik dan akan menekan populasi jamur patogen yang sebelumnya mendominasi. Interaksi diawali dengan pelilitan hifanya terhadap jamur patogen yang akan membentuk struktur seperti kait yang disebut haustorium dan menusuk jamur patogen. Bersamaan dengan penusukan hifa, jamur itu mengeluarkan enzim yang akan menghancurkan dinding sel jamur patogen, seperti enzim kitinase dan b-1-3-glucanase. Akibatnya, hifa jamur patogen akan rusak protoplasmanya keluar dan jamur akan mati.

Secara bersamaan juga terjadi mekanisme antibiosis, keluarnya senyawa antifungi golongan peptaibol dan senyawa furanon oleh Trichoderma  yang dapat menghambat pertumbuhan spora dan hifa jamur patogen.

Aplikasi .
Trichoderma produk biofungisida cara aplikasinya dengan menebarkan ke daerah sasaran atau salut biji lewat pencampuran benih dengan serbuk biofungisida sebelum ditanam atau disemaikan.

Biofungisida Trichoderma  dapat diaplikasikan kepada hampir semua jenis tanaman pertanian, seperti jenis-jenis sayuran, palawija, jagung, kedelai, kacang-kacangan, pohon buah, jenis tanaman perkebunan, dan tahaman hutan. Cara aplikasi yang tepat berbeda untuk tiap jenis tanaman, misalnya aplikasinya pada saat penyemaian, pemindahan ke lahan, dicampurkan pada media semai, dan ditaburkan pada setiap lubang tanaman. Trichoderma  ternyata juga memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan vegetatif dan perkembangan generatif tanaman serta hasil panen. Terlihat tanaman yang diberi biofungisida itu tumbuh cepat dengan performa tanaman yang subur, waktu pembuangan cepat dengan jumlah bunga banyak, dan jumlah polong yang juga lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang tidak diaplikasi biofungisida (kontrol). Hasil tersebut menjadi sebuah fenomena tersendiri yang menunjukkan kemampuan dari Trichoderma untuk merangsang pertumbuhan tanaman.

INDONESIA BERTANAM
MEMBUKA PELATIHAN

PELATIHAN MEMBUAT BIANG F0 TRICHODERMA DAN MEMPERBANYAK BIANG JAMUR TRICHODERMA SERTA MEMBUAT TRICHODERMA CAIR
DAN BONUS PELATIHAN CARA MEMBUAT PUPUK TRICHOKOMPOS DENGAN BAHAN AKTIF TRICHODERMA

TIM INDONESIA BERTANAM SIAP DATANG KE LOKASI ANDA UNTUK MELAKSANAKAN PELATIHAN.

BIAYA PELATIHAN RP. 5 JUTA
+ BIAYA TRANSPOR DAN AKOMODASI 2 ORANG INSTRUKTUR. DITANGGUNG PESERTA.

======================
HUB/SMS. Indonesia Bertanam.
0812 7466 4892.
======================

=>> Biaya Pelatihan Akan Lebih Murah Jika Anda Langsung Datang Ke Lokasi Kami. Lihat Info Selengkapnya : KLIK DISINI

Iklan

3 Comments Add yours

  1. recyclegarden berkata:

    kapan pelatihan pengendalian JAP ini ada di medan ? kami mau ikut. mohon info nya

    1. Silahkan kumpulkan anggota bapak, lalu undang kami sesuai jadwal bapak dkk. Konrak kami 0812 7466 4892

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s