Cegah dini serangan wereng coklat

Pamor wereng belum juga lewat. Serangannya masih membuat petani ketar-ketir.

Serangan wereng batang cokelat (WBC) memang sempat mereda pada musim tanam padi 2013 dan 2014. Namun, memasuki pertengahan 2015 , wereng kembali menunjukkan eksistensinya di beberapa daerah sentra padi di seluruh Jawa dan sebagian Sulawesi dan Sumatera. Serangan wereng besar-besaran yang terjadi pada 2010 tentunya menyisakan pengalaman pahit bagi petani karena dampaknya tidak main-main.

Pada fase nimfa dengan populasi 100 ekor/rumpun, petani bisa kehilangan 40% hasil panen. kehilangan yang lebih parah dialami saat wereng dewasa (imago) menyerang. Dengan populasi 32 ekor/rumpun saja petani bisa kehilangan hasil hingga 72%, bahkan puso apabila populasinya semakin tinggi. Cuaca yang tidak menentu memang menjadi kondisi terbaik bagi wereng untuk berkembang.

“Kondisi cuaca lembab serta pola tanam yang tidak serentak menjadi penyebab utama perkembangbiakan hama WBC menjadi cepat. Bisa juga disebabkan karena dampak El Nino,” . Dengan laju pertumbuhan yang sangat cepat, makanan selalu tersedia, serta kemampuan migrasi hingga ratusan kilometer, wajar bila serangan wereng masih sangat menakutkan bagi petani.

image

Pengamatan

Selain menyebabkan kerugian secara langsung, WBC juga berperan sebagai vektor virus kerdil rumput (rice grassy stunt virus, RGSV) dan kerdil hampa (rice ragged stunt virus, RRSV). Saat tanaman sudah terinfeksi RGSV dan atau RRSV, gejalanya baru akan muncul sekitar 10 – 20 hari kemudian. Jika sudah telanjur terinfeksi, tanaman akan tumbuh kerdil, anakan muncul berlebihan dan cenderung tumbuh tegak, serta daunnya memendek, menciut, dan berubah menjadi kekuningan. Tidak hanya itu, “Akan muncul bintik-bintik kecil berkarat seperti bisul. Tanaman yang terinfeksi juga akan tetap tumbuh hingga dewasa, namun malainya tidak muncul atau hampa,”.

Belum lagi, wereng tidak pandang umur dalam menyerang pertanaman padi. Padi yang masih ada di persemaian hingga padi yang sudah menguning, menjadi santapan lezat bagi hama selebritas ini. Karena itulah pengamatan secara intensif menjadi langkah awal dalam penanggulangan wereng, terutama saat masih fase telur.
Telur wereng biasanya diletakkan berkelompok dalam jaringan pelepah daun atau helai daun dan akan menetas dalam 7 – 10 hari. Selanjutnya, hama ini akan melewati lima tahap pertumbuhan nimfa selama 12 – 15 hari sebelum menjadi dewasa. Pada fase telur inilah pengendalian harus mulai dilakukan. Pengendalian sedini mungkin akan memberikan hasil yang lebih maksimal, harus diaplikasikan di instar awal, yaitu pada telur dan nimfa, karena pada masa itulah titik kritis siklus hidup wereng.

Insektisida yang disarankan memiliki efek ovisidal atau membekukan telur sehingga telur wereng tidak menetas.  Dan Insektisida yang mampu bekerja secara spesifik pada wereng cokelat sehingga tidak akan mengganggu musuh alami atau serangga penyerbuk lainnya.

Perhatikan Budidaya

Aplikasi pestisida tentunya menjadi pilihan terakhir saat serangan sudah terlihat di lahan. Indonesia Bertanam menyarankan perlakuan budidaya yang tepat untuk mencegah serangan wereng. “Pilih varietas yang lebih tahan wereng cokelat. Lalu musnahkan sisa tanaman terserang virus yang ditularkan wereng seperti kerdil rumput dan kerdil hampa. Begitu pula dengan bibitnya,”

Dalam penanamannya, mengingat kebutuhan wereng akan kelembaban tinggi, maka cara tanam jajar legowo sangat cocok untuk mencegah serangan. Cara tanam ini akan memberikan ruang lebih leluasa bagi masuknya cahaya matahari di sela tanaman sehingga kelembaban lebih rendah di bawah tanaman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s