Peranan Agroforestry terhadap konservasi Daerah Aliran Sungai dan Air

Penerapan sistem agroforestri sebagai pemanfaatan lahan  memberi manfaat ekologi melalui penggunaan lahan yang diterapkan. Manfaat ekologi yang dapat dirasakan melalui sistem agroforestri secara tidak langsung akan melindungi pepohonan kehutanan dari perambahan masyarakat sekitar, sehingga fungi ekologi dari tegakan pohon tersebut tetap berfungsi dengan baik.

Pohon tersebut akan menghalangi air hujan turun langsung ke permukaan tanah, sehingga energi kinetik dari air hujan menjadi lebih kecil saat turun di atas permukaan tanah.Tajuk tersebut juga akan menghambat air hujan turun semua ke permukaan tanah melalui proses intersepsi. Pada proses intersepsi, air hujan yang tertahan di tajuk pohon akan diuapkan kembali ke atmosfer. Selain itu, dengan adanya tanaman sela seperti tanaman pertanian akan mengurangi energi kinetik yang lepas dari tajuk pohon. Adanya penutupan lahan yang optimal oleh serasah daun pohon maupun tanaman pertanian akan mengurangi laju aliran permukaan (surface run off).

image

Menurunnya laju surface run off akan melindungi bahan organik atau lapisan top soil yang ada di atas permukaan tanah. Dengan demikian, laju erosi pun dapat diperkecil. Nilai erosi dapat ditentukan dengan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) oleh Wischmeier dan Smith, 1976 & 1978  

A = R K L S C P

A = Besar kehilangan tanah (ton/ha/th)

R = Faktor erosifitas hujan (mm/th)

K = Faktor erodibilitas tanah (range 0-1)

L = Faktor panjang Lereng (m)

S = Faktor kelerengan (%/o)

C = Faktor penutupan vegetasi (range 0-1)

P = Faktor pengelolaan tanah

Jika dilihat dari rumus di atas, faktor penutupan vegetasi berbanding lurus dengan besar kehilangan tanah. Semakin luas permukaan tanah yang tidak tertutup oleh vegetasi, maka semakin besar kehilangan tanahnya. Sehingga dengan adanya sistem agroforestri yang memanfaatkan lahan dengan pentupan vegetasi optimal, akan memperkecil kehilangan tanah. Akan tetapi, faktor pengelolaan tanah juga sebanding dengan besar kehilangan tanah. Sehingga pengelolaan tanah yang kurang tepat akan memperbesar kehilangan tanah.

Pada sistem agroforestri, pengelolaan tanah sebelum penanaman dan saat pemanenan adalah tahap yang rentan terhadap hilangnya bagian tanah (erosi). Pada tahap ini, penutupan lahan belum optimal, sehingga diperlukan cover crops untuk melindungi tanah dari erosi. Cover crops tersebut dapat berupa tanaman leguminosea yang cepat tumbuh maupun rerumputan.

image

Pada daerah dengan topogarfi miring, konservasi tanah tidak hanya memerhatikan penutupan tanah, tetapi juga metode penanaman yang digunakan. Lahan dengan topografi miring lebih rentan terhadap surface run off  dan erosi, sehinggga diperlukan adanya guludan. Guludan tersebut akan menghambat lapisan tanah yang dapat terbawa oleh aliran permukaan. Pembuatan guludan dapat dilakukan dengan jarak 5 meter atau dapat disesuaikan dengan kemiringan lereng. Oleh karena rentannya erosi pada topografi miring dan pengelolaan tanah, maka diperlukan jenis yang dipanen adalah hasilnya seperti kopi, coklat, maupun buah-buahan, terutama jika faktor erodibilitas tanahnya tinggi.

Selain sistem agroforestri dapat mengkonservasi tanah, agroforestri juga dapat mengkonservasi air. Vegetasi yang menutupi tegakan akan menyimpan air  hujan dan menahan air limpasan yang turun ke dalam tanah melalui proses infiltrasi.  banjir akan bisa menjadi lebih besar jika penyimpan air (water saving) tidak  bisa menahan air limpasan. Hal ini bisa terjadi ketika hutan yang berfungsi sebagai daya simpan air tidak mampu lagi menjalankan fungsinya. Hutan dapat mengatur fluktuasi aliran sungai karena peranannya dalam mengatur limpasan dan infiltrasi. Strata pohon yang ada pada sistem agroforestri menyerupai strata yang ada pada hutan, sehingga lahan tetap mampu menyimpan air oleh vegetasi yang ada.

Salah satu manfaat dari sistem  pengelolaan hutan bersama masyarakat dengan model agroforestry ialah konservasi tanah dan air. Seperti halnya hutan alam, agroforestry juga memiliki sistem stratifikasi tajuk yang dari segi konservasi tanah dan air akan lebih berdampak pada pengaturan tata air dan hujan tidak secara langsung jatuh ke tanah sehingga dapat mencegah erosi permukaan. Hal ini terlihat dari komposisi jenis dan pola tanam, jenis pohon di ladang, dan hutan rakyat. Sebagai contoh peran pohon dalam peresapan air seperti  Calliandra callothyrsus 56%, Parkia javanica 63,9%, dan Dalbergia latifolia 73,3%

Di dalam ekosistem, hubungan tanah, tanaman, hara dan air merupakan bagian yang paling dinamis. Tanaman menyerap hara dan air dari dalam tanah untuk dipergunakan dalam proses-proses metabolisme dalam tubuhnya. Sebaliknya tanaman memberikan masukan bahan organik melalui serasah yang tertimbun di permukaan tanah berupa daun dan ranting serta cabang yang rontok. Bagian akar tanaman memberikan masukan bahan organik melalui akar-akar dan tudung akar yang mati serta dari eksudasi akar. Di dalam sistem agroforestri sederhana, misalnya sistem budidaya pagar, pemangkasan cabang dan ranting tanaman pagar memberikan masukan bahan organik tambahan. Bahan organik yang ada di permukaan tanah ini dan bahan organik yang telah ada di dalam tanah selanjutnya akan mengalami dekomposisi dan mineralisasi dan melepaskan hara tersedia ke dalam tanah. Dengan kata lain, adanya pohon dalam agroforestry memberi manfaat terhadap lingkungan yakni terjadinya siklus hara yang efisien sehingga akan mendukung produktivitas lahan melalui penyuburan oleh berkembangnya mikroba tanah. Tersedianya konsentrasi bahan organik, C, dan N tanah dari serasah akan berpengaruh pada biomasa mikroba tanah, termasuk mikoriza yang aktif menyerap dan menyediakan unsur mikro P, N, Zn, Cu, dan S kepada tumbuhan inang, sehingga siklus hara pada agroforestry bersifat efisien dan tertutup.

Pohon memberikan pengaruh positif terhadap kesuburan tanah, antara lain melalui: (a) peningkatan masukan bahan organik (b) peningkatan ketersediaan N dalam tanah bila pohon yang ditanam dari keluarga leguminose, (c) mengurangi kehilangan bahan organik tanah dan hara melalui perannya dalam mengurangi erosi, limpasan permukaan dan pencucian, (d) memperbaiki sifat fisik tanah seperti perbaikan struktur tanah, kemampuan menyimpan air  (water holding capacity), (e) dan perbaikan kehidupan biota. Beberapa proses yang terlibat dalam perbaikan kesuburan tanah oleh pohon dalam sistem agroforestri sebagai berikut:
Lewat proses-proses dalam tanah
– Mengurangi erosi tanah.
– Mempertahankan kandungan bahan organik tanah
– Memperbaiki dan mempertahankan sifat fisik tanah (lebih baik dibanding tanaman semusim).
– Menambah jumlah kandungan N tanah melalui fiksasi N dari udara oleh tanaman legume
– Sebagai jaring penyelamat hara yang tercuci di lapisan tanah bawah, dan menciptakan daur ulang ke lapisan tanah atas melalui mineralisasi seresah yang jatuh di permukaan tanah.
– Membentuk kurang lebih sistem ekologi yang tertutup (yaitu menahan semua, atau hampir semua, atau sebagian besar unsur hara di dalam sistem)
– Mengurangi kemasaman tanah (melalui pelepasan kation dari hasil mineralisasi seresah)
– Mereklamasi tanah yang terdegradasi
– Memperbaiki kesuburan tanah lewat masukan biomass dari sistem perakaran pohon dan kontribusi dari bagian atas pohon
– Memperbaiki aktivitas biologi tanah dan mineralisasi N lewat naungan pohon
– Memperbaiki asosiasi mikoriza lewat interaksi tanaman dan pohon
– Lewat interaksi biofisik
– Memperbaiki penyerapan hujan, cahaya dan nutrisi mineral, sehingga meningkatkan produksi
Biomass.
– Memperbaiki efisiensi penyerapan hujan, cahaya dan nutrisi mineral yang dipakai.
– Terhindar dari penyebaran dan kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit

Keuntungan lingkungan yang lain dari pohon atau semak
– Meningkatkan fiksasi N pohon legume melalui peningkatan jumlah bintil akar bila akar pohon legume tersebut tumbuh berdekatan atau kontak langsung dengan akar tanaman bukan pemfiksasi N (mungkin dikarenakan adanya perpindahan langsung dari unsur N atau rendahnya ketersediaan N  dalam tanah yang meningkatkan efektifitas bintil akar).
– Tajuk pohon dapat melindungi tanah dari bahaya erosi
– Pepohonan memberikan peneduh bagi tanaman yang membutuhkan naungan (misalnya kopi) dan menekan populasi rerumputan yang tumbuh dibawahnya.

Apabila terjadi perubahan sistem agroforestry akan mengakibatkan berbagai kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh timbulnya erosi tanah dan degradasi lahan. Hal ini menyebabkan punahnya komponen-komponen penting  agroforestry  seperti fungsi tata air, penghasil serasah dan humus, habitat satwa liar, perlindungan varietas dan jenis tumbuhan lokal sehingga banyak tumbuhan lokal sebagai sumber pangan buah buahan, bahan bangunan, kayu bakar, dan bahan baku obat-obatan sudah sangat langka. Di lain pihak, usaha budidaya jenis-jenis yang terancam punah tersebut sangat minim.

Iklan

2 Comments Add yours

  1. Takatik berkata:

    berpotensi melindungi tanah longsor ga min?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s